Pages

Showing posts with label sastera. Show all posts
Showing posts with label sastera. Show all posts

Friday, January 30, 2009

ArenaWati

Belasungkawa: Karya sarat nasihat pertahan jati diri Melayu
Oleh Salbiah Ani dan Nazmi Yaakub


SASTERAWAN Negara (SN), Arena Wati, 84, yang pulang ke rahmatullah awal pagi semalam adalah lambang kegigihan pengarang negara ini dalam menghasilkan karya yang sarat dengan kritik sosial dan peringatan kepada bangsa Melayu agar tidak hilang jati diri. Allahyarham juga dilihat sebagai pengarang yang tinggi semangatnya terhadap kewujudan bangsa Melayu dengan menjadikannya sebagai perjuangan sepanjang hayat. Dilahirkan di Makasar, Indonesia, pada 30 Julai 1925, Arena Wati atau nama sebenarnya Muhammad Abdul Biang @ Andi Muhammad Dahlan Andi Buyung, berkelana ke Singapura dan akhirnya memilih Malaysia sebagai bumi untuk menetap.

Mula menulis seawal usia 22 tahun selepas menghabiskan usia remaja sebagai pelaut selama sembilan tahun, Arena Wati pernah terbabit dalam dunia kewartawanan dan penerbitan dengan menyertai majalah Hiboran di Singapura; Penerbitan Melayu Ltd (Johor Bahru); Percetakan Light (Bandar Seri Begawan) dan Pustaka Antara (Kuala Lumpur). Novel keempatnya, Tumbangnya Pokok Tak Berlangit yang kemudian ditukar judul kepada Lingkaran melonjakkan namanya apabila meraih tempat ketiga Peraduan Mengarang Novel Sempena 10 Tahun Merdeka. Sandera ditulis pada 1969 pula dianggap antara novel terbaiknya dan diangkat sebagai salah satu teks untuk Kertas 2 Bahasa Malaysia Sijil Tinggi Pelajaran (STP) dari 1960-an hingga 1980-an.

Arena Wati turut dikenali sebagai pengarang yang banyak melahirkan novel dalam bentuk trilogi dan menjadi ikutan penulis mutakhir, bermula dengan Bunga dari Kuburan, Kuntum Tulip Biru dan Sakura Mengorak Kelopak ia diikuti dengan trilogi Pantai yang menghimpunkan Pantai Harapan, Turina serta Citra. Trilogi Busa pula merangkumi Busa Hati, Busa Sukma dan Busa Kalbu yang diikuti trilogi Armageddon dengan jilid Mandala, Menora dan Pentagon serta trilogi terbarunya iaitu novel Samira, kumpulan cerpen Antara Manusia dan teks drama lima babak, Kepala Bapak Itu. Kepengarangannya diperakukan pada peringkat serantau melalui Anugerah Penulisan Sea 1985, Anugerah Sastera Negara (1987) dan Anugerah Sastera Mastera (ASM) 2003 daripada Majlis Sastera Asia Tenggara (Mastera). Allahyarham turut menerima Ijazah Doktor Kehormat dalam Kesusasteraan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), pada 2003 dan diberi penghormatan sebagai Karyawan Tamu UKM pada 1985 hingga 1989.

Arena Wati juga dilantik sebagai Penulis Tamu Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) sehingga 1990 dan Felo di Universiti Cornell, Amerika Syarikat (AS); Universiti Leiden, Belanda serta Universiti Kyoto, Jepun. Sementara itu, Ketua Bahagian Agama dan Tamadun Islam (DBP), Azmi Ibrahim, yang menguruskan penerbitan beberapa karya Arena Wati antaranya novel, Sukma Angin dan drama, Kutukan Dari Langit, menyifatkannya sebagai insan yang sangat berpegang kepada janji dan bersedia menerima penjelasan. Pegawai Perancang Bahasa DBP, Mohd Hanafi Ibrahim, berkata novel Allahyarham paling mendapat perhatian di kalangan pengkaji sehingga kini adalah Lingkaran yang diterbitkan pada 1965, meskipun banyak karyanya lahir selepas itu. Presiden Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Pena), Datuk Baharuddin Zainal, pula berkata, Arena Wati menjadi contoh penulis yang gigih dan tidak pernah mengalah untuk meluahkan pendiriannya melalui kesusasteraan.

Saturday, January 24, 2009

Plagiat 1

Tulisan berikut berkaitan plagiat yang leluasa dilakukan oleh ramai orang. Tulisan ini boleh dirujuk sumber asalnya di laman sawang Tahe Acheh Institute di
http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=278:soal-plagiat-dan-karya-sastra&catid=16:sastra--budaya&Itemid=28


Soal Plagiat dan Karya Sastra

Written by Teuku Kemal Fasya Antropolog, on 17-09-2008 11:33
Published in : ,
Sastra & Budaya

Plagiat atau penjiplakan adalah hal tercela dalam wilayah pengetahuan, seni, dan sastra. Jengahnya pada plagiat atau plagiarisme sama dengan korupsi atau fitnah di bulan puasa. Ia seperti najis yang mencoreng sucinya benda. Mengacaukan dan menganggu otoritas dan keaslian.Tiba-tiba dalam dunia penulisan sastra di Aceh isu ini menyeruak. Dipicu terbitnya dua sajak soneta Pablo Neruda, penyair Chili yang sangat termashur itu. Sajak itu terbit di sebuah media massa di Aceh, yang diterjemahkan oleh Fauzan Santa. Soneta yang terbit itu bernomor 49 dan 52 terambil dari buku Cien Sonetos de Amor (One Hundred Love Sonets, terjemahan Inggris Stephen Tapscott, University of Texas Press, 1986).

Siapa yang tak terpukau oleh Neruda? Penyair besar pemenang nobel tahun 1971, pernah sebagai staf diplomat Chili di Indonesia, dan menganggap WS Rendra sebagai cucunya ini adalah peracik kata-kata cinta yang mahal berharga. Ia mampu mengangkat gairah cinta, menyusun dalam bait kata-kata, estetis sekaligus mistis, dan menggabungkannya dengan semangat revolusi - seperti yang saya nikmati dalam One Hundred Love Sonets.
Gabriel Gárcia Marquez, novelis dan penulis cerita pendek terbesar Columbia , pemenang nobel sastra tahun 1982, pengarang novel sangat terkenal One Hundred Years of Solitude memberikan penilaian, “Bahasa Spanyol adalah bahasa yang paling romantis di dunia setelah berada di tangan Neruda”. Ini menunjukkan bahwa Neruda telah menggucangkan dunia. Banyak penyair dari segala penjuru dunia, termasuk Fauzan Santa, harus belajar darinya.Sampai di sini tak ada yang salah dengan penerbitan dua soneta itu. Tapi dua pembaca telah menuliskan komentarnya dengan sangat sinis, mengebul api, menuduh Fauzan telah mengambil untung di atas nama besar Neruda, dan menganggapnya sebagai plagiator atau penjiplak.
Terjemahan = Plagiat
Menurut Ajib Rosidi, plagiat adalah pengumuman sebuah karya pengetahuan atau seni oleh ilmuwan atau seniman ke publik atas seluruh atau sebagian besar besar karya orang lain, tanpa menyebutkan nama sang pengarang yang diambil karyanya. Sikap tindakan ini agar publik mengakui bahwa karya yang diambil sebagian atau seluruh karya orang lain itu sebagai karyanya (Kompas, 26 Agustus 2006).
Ini tentu terkait dengan prestise dan otoritas kepengarangan sang plagiator.Jika mengambil perspektif ini tentu saja karya terjemahan Neruda di atas tidak dapat dianggap sebagai karya jiplakan. Terjemahan, apalagi terjemahan karya sastra menduduki peran kreatif yang tinggi. Karya sastra, terutama puisi, menurut Goenawan Mohamad (GM), tidak mungkin diterjemahkan, dalam artian memindahkan frasa dan sintagmasi kalimat persis dari karya asli ke dalam bahasa baru.
Karya sastra nan puitik hanya mungkin diinterpretasikan. Ini persis apa yang dilakukan GM ketika mengutip Samuel Beckett, Johann Wolgang Van Goethe, Mahmod Darwish, bahkan Neruda, di dalam “Catatan Pinggir” Tempo-nya.Kita dapat mengembara dalam sejarah plagiat sastra paling menghebohkan di Indonesia, ketika puisi Chairil Anwar, Karawang Bekasi, dianggap sebagai karya jiplakan. Bahkan bukan hanya Karawang Bekasi, ada banyak karya Chairil dianggap tidak orisinil. Ada cerita dari HB Jassin, ketika Chairil berkunjung ke perpustakaannya dan membaca dengan pesona sebuah karya Friedrich Nietszche, Thus Spoken Zarathustra.
Chairil memang melakukan kenakalan kecil. Karena miskin, yang dapat dilakukannya hanya mencuri. Chairil mengiris beberapa lembar buku itu dan menyelipkannya di balik baju. Hal itu diketahui oleh Jassin tapi ia pura-pura tidak tahu. Tapi, pembiaran ini akhirnya melahirkan sesuatu yang dahsyat dalam sejarah puisi modern Indonesia , yaitu lahirnya puisi eksistensialis, Aku. Ketika akhirnya, jauh hari setelah meninggal sang pelopor angkatan 45 itu, dituduh plagiator, lebih mirip gosip selebritas. Ia dianggap menyontek dari karya seniman besar dunia yang berbahasa Inggris dan Belanda, seperti Archibald MacLeish, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, dan WH Auden.
Namun berdasarkan penelitian mendalam Jassin dan Asrul Sani dimunculkan kesimpulan bahwa Chairil bukanlah seorang plagiator. Ia memang menerjemahkan beberapa karya, tapi sebagian besar karyanya adalah proses kreatif yang otonom.Atas dasar itu penting kembali untuk mendudukkan apa yang terjadi dalam ruang keseniman, terutama seniman Aceh. Proses yang dilakukan Fauzan adalah sebuah proses kreatif yang bermaksud menghidupkan tradisi dalam menginterpretasikan karya-karya besar dunia ke dalam bahasa Indonesia.
Kemungkinan ini masih terbuka dibandingkan menerjemahkan karya seni dunia ke dalam Bahasa Aceh yang terkesan utopia.Bahkan penafsiran puisi Neruda oleh Fauzan terkesan hati-hati, tanpa memasukkan diksi yang lebih mengalir dan berembun dalam bahasa Indonesia-Melayu. Beberapa bagian masih sangat leksikal, dan kurang puitik. Mungkin ketakutannya atau penghormatannya atas karya Neruda, serta tak ingin dianggap “memperkosa”. Saya mengetahui dengan baik hal ini karena ketika proses menafsirkan ke dalam bahasa Indonesia saya menjadi saksi, bahkan mendiskusikan beberapa hal. Baiklah saya kutip beberapa bagian dan “terjemahan” yang diterbitkan:
It’s today;
all of yesterday dropped away
Among fingers of the light and the sleeping eyes.
Tomorrow will come on its green footsteps;
No one can stop the river of the dawn
Hari ini: segala silam telah pergi
Diantara jemari cahaya dan mata yang tidur
Esok akan tiba dengan langkah hijaunya
Tak ada yang sanggup menghambat sungai baru
Kata-kata ini bukanlah “puisi Neruda”, karena puisi Neruda sebenarnya adalah bahasa Spanyol. Stephen Tapscott lah yang bertanggung jawab memindahkannya dalam bahasa Inggris. Karena saya dan juga Fauzan buta teks Spanyol yang berada di sisi kiri setiap soneta Bahasa Inggris, maka ruang yang memungkinkan dilakukan adalah melihat teks Inggrisnya dan bertahannuts dengan membayangkan Neruda mengawasi kami jika salah menafsirkan.
Cambuknya tentu membuat kami kecut, persis seperti ketika masih kanak-kanak salah membaca Al Quran. Sang habib sudah siap dengan rotan sebagai hukuman.Para pembaca dapat melihat apa yang dilakukan oleh Fauzan. Ia berusaha menggunakan totalitas kebahasaannya, keluar dari pakem gramatologi biasa, dan memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia . Setiap penyair akan tersekat dalam pemilihan diksi, dan ini biasa. Setiap penyair mencoba menggagahi setiap kata dan mengawininya.
Proses ini adalah proses kreatif dan bukan menjiplak, terlebih karena nama Neruda tidak dikesampingkan.Bahkan saya memiliki tafsir sendiri atas baris terakhir, “No one can stop the river of the dawn”, yang dalam versi saya berbunyi, “tak seorang pun dapat menghentikan sungai fajar itu”. Apa itu sungai fajar? Itu jelas metafor yang mungkin berarti sungai yang masih jernih, bersih, tanpa ampas. Jika kita konkretkan dalam bahasa awam, sungai fajar itu adalah hulu sungai (fajar adalah perlambang bening dan bersih).
Mungkin itu pula yang membuat Gesang terpesona pada Bengawan Solo. Yang ia maksudkan tentu saja Bengawan Solo di hulu, dimana mata airnya masih jernih. Tidak di hilir yang telah bercampur kotoran pabrik dan Manusia.Tuduhan yang serampangan atas sebuah karya sebagai plagiat memang akan berakibat buruk, baik bagi pengarang yang dianggap plagiator maupun terhadap budaya kreatif menerjemahkan atau menyadur karya-karya besar dunia. Dalam dunia kepenyairan Aceh, sebenarnya penting untuk menggalakkan kesempatan para sastrawan dan penyair menggemukkan pengalamannya dengan membaca karya-karya asing dan menerjemahkannya.
Ini tentu lebih bertanggung jawab dibandingkan meng-copy paste – bahkan dari bahasa yang sama, dan menggadang-gadang sebagai karya orisinil. Kita jangan hanya bisa mengagung-agungkan karya kanonik klasik seperti Syair Perahu-nya Hamzah Al Fansury, yang memang sudah agung itu. Akan tetapi tujuan kita bernafas di bawah bumi ini adalah mencipta hal yang baru. Namun dalam teks adakah hal yang baru? Jika kita mengambil perspektif Roland Barthes tidak ada. “Teks itu ibarat permata. Ia melepaskan warna kepengarangan-Tuhan (teologis).” Kemilaunya kita maknai. Bagi kita, sang penulis (author) adalah mengambil keberanian sang Pengarang sebenarnya (Author-God), dan mengaduknya dalam sejarah pribadi, mencampur, dan membenturkannya. Tidak ada yang orisinal, karena yang ada adalah proses agar teks terus bernyawa.
Dibandingkan menuduh seseorang plagiat, alangkah lebih indah jika kita berkarya, atau mengkritisi karya lain dengan kelapangan hati, melalui berbagai disiplin yang kita punya, dan menjadikan setiap karya yang dikritik sebagai langkah baru dalam berdialektika. Plagiator asli sesungguhnya tidak pernah berkarya. Ia malas, hanya duduk dan menikmati kekayaan karya orang.Namun maksud ini bukanlah bermaksud menghentikan kritik atas karya orang lain. Berkaryalah dan jadilah kritikus sebenarnya. Karena seperti pepatah Latin, Nemo iudex in causa sua. Tak ada orang yang bisa menjadi hakim bagi diri sendiri.
Di akhir tulisan, patut juga mengkritik realitas sosiologis sastrawan Aceh yang semakin sepi mentas, yang pangling ketika banyak proyek musti dilibas. Sayang-seribu-sayang, hidup terasa sangatlah pintas. Tanpa kata-kata bernas. Tanpa nilai-nilai bertunas. Ketika penyair tanpa pena-kertas, dan seniman tanpa kuas-kanvas. [Teuku Kemal Fasya Antropolog]Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2005 Dilarang keras mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini tanpa seizin penulis asli dan "Aceh Institute" sebagai sumber otentik.

Friday, January 23, 2009

Sains dan Sastera

Artikel ini dipetik di laman sawang Utusan online di

Utusan malaysia
ARKIB : 04/01/2009
Hubungan sains dan sastera

Dewasa ini, novel remaja menjadi satu bahan bacaan yang popular dalam kalangan remaja yang suka membaca. Novel-novel ini memperkatakan tentang dunia mereka iaitu dunia remaja daripada pelbagai segi dan yang paling dominan ialah permasalahan cinta. Semacam menjadi satu keperluan untuk mereka memiliki novel daripada pengarang yang mereka gemari. Ada pengarang-pengarang novel remaja ini yang mempunyai kelab peminatnya sendiri untuk bukan sahaja mempromosikan karya-karya mereka tetapi juga bertemu dengan peminat novel-novel mereka. Mereka menjadi semacam selebriti dan tidak kalah dengan pengarang tersohor dunia J.K Rowling yang menghasilkan novel remaja Harry Potter. Sesetengah jualan novel-novel remaja ini sangat laris dan diulang cetak beberapa kali.

Tambahan pula, novel-novel remaja ini boleh di dapati di kedai-kedai buku terkenal tanah air dan diletakkan di ruang yang strategik di kedai-kedai ternama ini. Perkara ini tidak berlaku pada masa dahulu dan novel-novel remaja Melayu dikatakan tidak ada nilai sastera dan pembacanya pula kurang. Namun keadaan telah jauh berubah. Ada di antara pengarang-pengarang ini telah menjadi senang dengan menikmati royalti daripada penjualan novel-novel yang dihasilkan. Daripada satu segi, perkembangan ini sangat baik, misalnya ia memperlihatkan minat remaja kita untuk membaca sudah meningkat, industri penerbitan buku kita turut memperlihatkan peningkatan yang memberangsangkan.

Namun di dalam suasana yang menggembirakan ini, terserlah satu kebimbangan yang munasabah. Apakah novel-novel remaja yang disajikan di ruang-ruang strategik kedai- kedai buku itu adalah novel- novel yang baik?. Baik di sini bermaksud dalam konteks pembinaan personaliti remaja itu sendiri. Remaja adalah satu angkatan muda yang sedang melalui proses pembentukan personaliti yang penting dan mencabar. Mereka sedang melepasi zaman kanak-kanak dan sedang memasuki alam dewasa. Zaman yang penuh cabaran dan dugaan, di samping keseronokan dan keindahan. Namun adakah novel-novel remaja itu membantu remaja membina personaliti yang sihat atau sebaliknya? Kalau kita teliti novel-novel remaja yang popular itu, kebanyakannya membincangkan tentang cinta dan cinta yang dikupas itu adalah cinta sensasi yang mengarah kepada khayalan yang melalaikan.

Perlambakan novel-novel remaja yang sensasi sifatnya ini seperti tidak dapat dibendung lagi. Ada yang melihat perkembangan ini sangat baik dan kita tidak perlu bimbang kerana ia menandakan remaja kita sudah minat membaca khususnya sastera dan mereka akan menjadi khalayak masa depan sastera Melayu. Betulkah ini akan terjadi? Apa yang kita dapati, khalayak sastera Melayu semakin kecil. Mereka yang menjadi pembaca novel-novel remaja yang sensasi itu, apabila dewasa mereka menyedari bahawa novel-novel yang mereka pernah baca itu adalah hampas sahaja.

Mereka membuat satu generalisasi yang mungkin kurang tepat dengan mengatakan bahawa sastera adalah hampas sahaja atau khayalan murahan sahaja. Kenapa ini berlaku? Banyak jawapan yang boleh kita peroleh. Namun yang jelas, mereka tidak mendapat novel-novel remaja yang bermutu yang boleh menyebabkan mereka jatuh cinta kepada sastera. Mereka tidak terdedah dengan novel-novel yang bermutu daripada segi persoalan-persoalan yang dibincangkan. Mereka terlepas daripada isu-isu sejagat yang berada di sekeliling mereka. Kesedaran mereka tentang isu-isu global tidak terusik. Mereka gagal untuk menjadi orang dewasa yang boleh berfikir dan mempunyai idealisme yang dapat menggerakkan mereka ke hadapan.

Pandangan seorang saintis Melayu yang luar biasa minatnya kepada kesenian dan kebudayaan yang sedang menerajui sebuah universiti tempatan perlu dibincangkan difikirkan untuk kemajuan sastera remaja Melayu. Pandangannya tentang sastera remaja sangat menerik difikirkan. Beliau telah memberi satu hala tuju kepada sastera remaja di dalam satu persidangan iaitu Persidangan Kebangsaan Kesusasteraan Remaja 2008 baru-baru ini di Universiti Sains Malaysia. Prof. Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak adalah seorang saintis dalam bidang farmasi dan beliau telah memberi pandangannya bagaimana sastera remaja itu perlu dibangunkan sesuai dengan perkembangan negara sekarang dan dunia amnya. Sebagai Naib Canselor Universiti Sains Malaysia iaitu sebuah universiti yang berakarkan kepada sains dan teknologi, beliau melihat sastera juga memainkan peranan yang penting dalam kehidupan manusia dan keprihatinan beliau kepada hal ini diperlihatkan di dalam wacana- wacananya dan yang terbaru ialah melalui ucap utama yang disampaikan di dalam persidangan ini. Melalui ucap utama yang bertajuk Kesusasteraan Remaja: Menjana Korpus, Membina Khalayak, beliau telah meletakkan satu halu tuju sastera remaja yang diasaskan kepada empat koordinat iaitu; sastera sebagai dunia idea, remaja sebagai dunia hari muka, korpus sebagai dunia ilmu dan khalayak sebagai dunia sejagat yang sejahtera. Koordinat ini berhubungan dan membentuk satu makna yang besar terhadap sastera remaja.

Bagi Prof. Dzulkifli, sastera sebagai dunia idea tidak harus terpisah membincangkan tentang hari muka iaitu memperkatakan tentang kemanusiaan dalam dalam arus perdana sains dan teknologi. Krisis kemanusiaan yang terjadi daripada kesan sains dan teknologi kepada manusia perlu mendapat perhatian sastera remaja. Permasalahan "manusia itu robot dan robot itu manusia" seperti dalam genre "cyborg" perlu diperbanyakkan dalam sastera remaja dan bukan tentang permasalahan cinta yang sensasi itu semata. Beliau selalu merujuk kepada genre cereka sains sebagai satu alternatif sastera remaja untuk mendokong sastera sebagai dunia idea. Sebagai seorang Profesor farmasi, Prof. Dzulkifli selalu meluahkan rasa kecewanya betapa ilmu sains yang diceburinya selama tidak memperkatakan seluruh dimensi manusia. Beliau penuh yakin berpandangan bahawa seni dan budaya seperti sastera dapat menyatakan dimensi yang ditinggalkan oleh sains dan teknologi. Maka remaja perlu menyelami dimensi manusia yang diabaikan oleh sains dan teknologi. Baginya, remaja adalah manusia masa depan dan sebagai manusia masa depan mereka perlu sensitif dan mempunyai kesedaran tentang bukan sahaja masa depan mereka sendiri tetapi juga masa depan dunia. Remaja mesti juga memikirkan hal-hal global seperti tentang pencemaran alam yang sangat kritikal sekarang. Remaja tidak boleh dilalaikan oleh novel-novel sensasi kerana mereka mempunyai peranan yang penting untuk mengatasi masalah dunia pada masa depan. Di tangan mereka terletak kesejahteraan masa depan dunia yang semakin terancam. Maka remaja perlu mencari kebenaran ini dan bukan dikurung dalam kotak fikiran dan emosi yang sempit. Jika kita tidak menyedarkan remaja bahawa mereka adalah manusia masa depan maka mereka akan terus dirantai dengan kejumudan tentang diri dan persekitarannya. Remaja sebagai manusia masa depan perlu dibentuk menjadi manusia masa depan yang kukuh peribadinya dan kental identitinya dalam menghadapi rembatan globalisasi. Maka novel-novel remaja futuristik harus memaparkan bagaimana seharusnya mereka mendepani masa depan mereka.

Sastera remaja sebagai satu korpus atau sebagai satu ilmu, membicarakan tentang satu genre yang kaya dengan unsur-unsur penerokaan, pemikiran dan penyelidikan. Novel-novel remaja yang dihasilkan mampu mengerakkan minat remaja untuk meneroka ilmu-ilmu yang diperkatakan pelbagai perkara seperti alam sekitar, sains dan teknologi, angkasa lepas dengan lebih mendalaminya. Sastera remaja harus mampu menggerakkan remaja ke arah melakukan penerokaan ilmu melalui bahan-bahan bacaan tambahan dan barangkali membaca novel-novel yang memperkatakan hal yang sama. Baginya, sastera remaja yang berasaskan ilmu mampu menghasilkan sifat-sifat pembaca seperti ingin meneroka ilmu baru atau mendalami ilmu yang sedia ada, berbudaya berfikir yang bernas dan Baginya, novel remaja mesti boleh mengerakkan remaja bertanya dengan pertanyaan yang betul tentang perkara-perkara yang mereka lalui dan akan mereka tempuhi. Bertanya dengan soalan yang betul perlu kepada budaya berfikir dan budaya ini perlu disuburkan dalam sastera remaja sebagai korpus ilmu. Persoalan yang penting terlintas di fikiran ialah, adakah pengarang-pengarang sastera remaja kita banyak membaca untuk menambah ilmu mereka dan mampu menghasilkan novel-novel yang diharapkan oleh saintis ini?

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada awal esei ini, pembaca sastera remaja khususnya novel remaja semakin bertambah, namun kelangsungan mereka sebagai pembaca masa depan membimbangkan dan ini ada hubungannya dengan mutu novel-novel yang dihasilkan. Bagi Prof. Dzulkifli , sastera remaja mesti membentuk khalayak yang lebih luas iaitu khalayak sejagat dan kesejagatan itu boleh dicapai dengan memberi perhatian kepada perkara-perkara yang dihadapi oleh manusia sejagat seperti kemiskinan, peperangan, pencemaran alam dan sebagainya. Sastera remaja dapat memberi makna, kebenaran dan kesejahteraan kepada pembacanya. Makna yang ingin disampaikan haruslah benar dan bukan satu rembasan daripada kepalsuan. Maka penulisan sastera remaja harus berdasarkan kepada ilmu kental dan bukan imaginasi serta rasa semata-mata. Lantaran itu, bagi Prof. Dzulkifli jika ilmu dijadikan asas penulisannya maka sastera remaja tidak akan menjadi sastera yang remeh. Sastera remaja boleh dan mampu menjadikan khalayaknya beradab dan bertertib dengan pelbagai nilai-nilai murni dan agama. Sastera remaja yang berasaskan ilmu dapat menyuntik kesedaran di dalam diri khalayaknya tentang pelbagai isu yang penting yang mengancam masa depan mereka dan seterusnya menyedarkan mereka tentang tanggungjawab untuk mengatasinya.

Pandangan dan harapan Prof. Dzulkifli ini sangat penting difikirkan dan sudah lama kita mendengar rungutan demi rungutan tentang buku-buku sastera yang digunakan di sekolah-sekolah kita yang tidak mencerminkan perkembangan semasa dan masa depan yang sesuai untuk pembentukan personaliti remaja yang menjadi manusia masa depan seperti yang dinyatakan oleh saintis ini.

Kesimpulannya, pandangan seorang saintis seperti Prof. Dzulkifli terhadap sastera seperti sastera remaja ini menunjukkan bahawa golongan saintis seperti beliau berfikir tentang sastera dan keistimewaannya sehingga menaruh harapan dan kepercayaan bahawa sastera remaja sangat penting dalam membentuk personaliti remaja yang menjadi manusia masa depan yang sejahtera hidup dan fikirannya. Namun, adakah pengarang-pengarang sastera remaja terpanggil dengan pandangan dan harapan saintis ini untuk berkarya seperti yang dimahukan atau masih mahu atau rela dibelenggu oleh kongkongan konsumerisme sehingga gagal membentuk remaja yang sejahtera personalitinya dan gagal membentuk personaliti manusia masa depan yang teguh dengan pelbagai kesedaran yang membawa kebaikan. Pandangan Prof. Dzulkifli ini menuntut direnung dan difikirkan dengan mendalam dan bijaksana demi kebaikan sastera remaja dan manusia masa depan ini.

Friday, January 9, 2009

Nilai Sebuah Cerpen


Artikel ini saya peti daripada tulisan Nisah Haron yang boleh dirujuk di http://annyss.blogspot.com/2008/12/tiba-tiba-sebuah-cerpen-bernilai-rm30.html sebagai maklumat untuk semua. Harap maklum.



Sunday, December 14, 2008

Tiba-tiba Sebuah Cerpen Bernilai RM30 juta!

Sejauh manakah seorang pengarang boleh menggunakan lesen kreatifnya untuk berkarya?

Inilah soalan yang datang melalui SMS ke telefon bimbit saya beberapa kali. Agak sukar juga untuk menjawab persoalan ini melalui pesanan ringkas. Bimbang akan disalah erti. (Seperti yang berlaku kepada entri Sesudah Eidul Adha yang cuba dipolitikkan oleh pihak tertentu. Boleh lihat pautan ini.)

Kali ini, saya sedang bertugas di Bengkel Penulisan Cerpen DBP-PEN 2008. Sewaktu rehat petang semalam, persoalan yang sama juga ditanyakan oleh beberapa peserta. Sudah ada yang bimbang untuk menulis hal-hal yang boleh diambil tindakan sedemikian. Lalu, haruskah pengkarya sekadar meneruskan tradisi lemah - menulis hal-hal yang tetek-bengek, kisah cinta dan rindu separuh mati sehingga tidak mampu mencabar akal sendiri?

Saya melihat isu Teresa Kok menyaman Utusan Melayu dari dua sisi:

a) sejauh manakah kebebasan berkarya; dan
b) sebijak manakah seorang penulis dapat berselindung di sebalik karya

Sebagai pengarang, kita mempunyai lesen kreatif. Saya bersetuju dengan pendapat yang dikirimkan oleh pemilik e-mel - cp@galaxystudio.tv di dalam artikel Memanfaatkan Lesen Penulisan Kreatif. Sebagai pengarang yang tahu akan hak-haknya, tidak ada yang patut dibimbangkan. Perkara 10 Perlembagaan Persekutuan telah memberikan Kebebasan Bersuara kepada rakyat Malaysia.

Kebebasan Bersuara ada jaminan. (Kebebasan selepas bersuara, ada jaminan? Itu soal lain). Sebagai pengkarya, kita bebas untuk berkarya di bawah peruntukan perlembagaan ini.

Namun, sebagai pengarang juga, kita harus bijak mengungkapkan watak, latar dan elemen-elemen tertentu yang boleh dianggap 'menimbulkan persoalan' kepada pembaca tertentu, dengan tahap kiasan yang wajar. Di sinilah letaknya ketinggian akal budi seseorang pengarang. Ada pengarang yang menulis dengan agak langsung dan berkias di sebalik selapis kain kasa yang cukup jarang. Pembaca boleh 'lihat' apa dan siapa di sebalik tabir itu.

Saya juga pernah menulis cerpen bercorak sedemikian melalui cerpen-cerpen saya Resipi Dari Istana (30 Julai 2006 - Berita Minggu) dan Resipi Dari Istana 2 (24 Februari 2008- Berita Minggu).

Pengarang ialah manusia yang sensitif bukan sahaja kepada persekitarannya tetapi juga kepada isu yang berlaku dan bergolak di dalam dirinya. Ada sesuatu yang menjentik perasaan seseorang pengarang dan ini mendorongnya untuk meluahkan sama ada dalam bentuk emosi yang tidak terkawal ataupun dapat diungkapkan dalam karya.

Ketika saya menulis kedua-dua cerpen di atas, konteksnya berbeza dan emosinya juga tidak sama. Paling menarik, apa yang saya ungkapkan dalam karya-karya tersebut ditanggap oleh pembaca melalui tafsiran masing-masing. Boleh dikatakan tidak semua dapat melihat terus apa yang sebenarnya berlaku 'di sebalik tabir' yang saya pasang pada karya tersebut.

Pada saya, matlamat penulisan itu sedikit sebanyak sampai juga. Sebuah karya tidak harus bersifat peribadi dan hanya boleh ditafsirkan melalui satu hala. Tidak kurang penting apabila karya berkenaan dapat ditafsirkan kembali pada zaman yang berbeza. Misalnya, Pramoedya Ananta Toer telah mengungkapkan zaman internet ketika menulis Rumah Kaca. Padahal internet belum lagi wujud pada zaman tersebut. Bukanlah Pram itu seperti Nostradamus, tetapi karyanya itu melangkau zaman dan dapat ditafsirkan dengan cara yang berbeza mengikut zaman tertentu.

Cuba baca juga novel Kawin-kawin (Azizi Haji Abdullah). Lihat betapa halusnya satira Azizi dalam mengungkapkan senario politik Malaya-Malaysia. Tidak kurang juga menganggap novel ini mengandungi unsur lucah! Tapi, itu bergantunglah kepada pembaca itu sendiri. Jika hal-hal lucah memang sudah bermain-main dengan liar di dalam kepala, itulah yang akan terpancar melalui pembacaannya. Sebaliknya, apabila membaca secara terbuka, hal ini boleh sahaja ditafsirkan secara terbuka juga.

Pendek kata, sebuah karya boleh sahaja ditafsirkan dengan pelbagai cara dan itulah keistimewaan seni. Jika sudah terkunyah cili padi, pastilah terasa gigitan pedasnya pada lidah dan mulut. Sesiapa yang tidak memasukkan cili di dalam hidangannya, tentulah makanannya kurang perisa, barangkali!

Sebagai pengarang, saya berbangga apabila cerpen Politik Baru YB J tiba-tiba bernilai RM30 juta. Bukan senang sesebuah karya sastera mendapat perhatian yang cukup luas apatah lagi dibahaskan juga di dalam Parlimen!

Penulis wajar menggunakan lesen kreatif dengan sebijak mungkin. Seperti juga mendapat lesen memandu, pandai-pandailah memutar stereng kereta supaya tidak melanggar orang lain dan supaya orang lain tidak dapat menyaman kita kerana memandu dengan cara berbahaya!